Istilah child grooming semakin sering muncul dalam berbagai pemberitaan, terutama terkait kejahatan terhadap anak di ruang digital. Child grooming adalah proses pendekatan yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan anak dengan tujuan eksploitasi, baik secara emosional maupun seksual.
Pelaku biasanya memanfaatkan media sosial, gim daring, atau aplikasi pesan instan untuk mendekati korban secara perlahan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Proses Grooming Terjadi Bertahap
Child grooming tidak terjadi secara instan. Pelaku umumnya memulai dengan percakapan ringan, memberi perhatian berlebih, hingga menawarkan hadiah atau bantuan agar anak merasa nyaman.
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai meminta hal-hal pribadi atau memanipulasi korban secara emosional.

Baca juga:Harga Suzuki Ertiga Bekas Januari 2026 Mulai Rp95 Juta
Dampak Serius bagi Korban
Anak yang menjadi korban child grooming berisiko mengalami trauma psikologis, rasa takut, hingga gangguan kepercayaan diri. Dampak ini bisa berlangsung jangka panjang jika tidak segera ditangani.
Oleh karena itu, pendampingan dari orang tua dan tenaga profesional sangat dibutuhkan bagi korban.
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Orang tua diimbau lebih aktif memantau aktivitas digital anak serta membangun komunikasi terbuka. Edukasi mengenai bahaya interaksi dengan orang asing di dunia maya juga menjadi langkah pencegahan penting.
Kesadaran bersama diperlukan agar kasus child grooming dapat ditekan dan anak-anak terlindungi.